ANAK PANTI

ANAK PANTI

Betapa enak menjadi orang kaya, semua serba ada, segala keinginan terpenuhi, karena semuanya telah tersedia. Seperti Dony, ia adalah anak konglomerat, berangkat dan pulang sekolah selalu diantar dengan mobil mewah, dan sopir pribadi. Meskipun demikian ia tidaklah sombong, juga sikap kedua orang tuanya. Mereka sangatlah ramah mereka tidak pilih-pilih dalam soal pergaulan, baik orang kaya ataupun miskin.

Itulah kehidupan teman akrab ku, di bandingkan dengan hidupku sangat lah jauh perbedaannya. Aku hanyalah Beny Bray’n anak dari keluarga sederhana, orang tua ku hanyalah seorang guru di dusun. Lagi pula aku sekarang hidup bersama dengan keluargaku di Kota jauh sekali dari orangtua, untuk memenuhi kebutuhan hidup ku dan keluargaku, aku membuka suatu usaha rental kecil-kecilan, dengan modal yang cukup lumayan. Jangankan Mobil, sepeda motor pun aku tidak punya, untuk pergi kesekolah pun aku hanya memanfaatkan kakiku yang kecil ini menelusuri jalan raya yang panjang dan panas.

Dony adalah temanku sejak aku duduk dikelas VII, kami berteman baik hingga kini, terlebih sekarang kami satu kelas di SMPN-1 ini. sering sekali Dony mengajak aku kerumahnya untuk mengerjakan tugas bersama, disana Keluarganya menyambutku seolah keluarga, sehingga tak heran teman-teman ku banyak yang betah kalau main dirumah Dony.

“Don, apa kamu gak minder gitu berteman dengan kami?” Tanya ku sekedar ingin tahu.

“Oh…. Tidak,  aku malah lebih suka berteman dengan kalian, menurutku kita semua sama saja” jawab Dony.

“Betul…. Setuju…….!” Sahut ku.

Matahari sudah terlihat condong ke barat, tanda hari telah senja. Kami langsung membereskan buku-buku yang berantakan dimeja, diruang tengah rumah Dony, akupun bergegas pulang kerumah. Suara jangkrik dan angin malam membuat suasana menjadi nyaman, dengan tanpa berpikir panjang akupun langsung membaringkan tubuhku pada tikar guna untuk melepas rasa lelah ku sepanjang hari ini.

Menjelang subuh kumandang Azan pun terdengar, pertanda hari sudah pagi, akupun sudah siap dengan peralatan dapur seraya menyediakan hidangan untuk sarapan pagi, setelah itu akupun bergegas mandi, memasang pakaian dan kemudian pergi ke sekolah.

“Hi……. Mimpi apa kamu tadi malam?” Tanya Dony dari belakang.

“Apa….. aku tidak ada sama sekali mimpi tadi malam, emangnya kenapa?” sahut ku.

“Itu lihat kakimu, kok sepatu dipasang terbalik?”ha….ha…ha…. jawab Dony riang.

“Apa… aduh kenapa sih!”  akupun merasa malu akibat ulahku yang seperti ini, lagi pula selama ini aku tidak pernah ceroboh seperti ini.

Kembali kami mengadakan suatu kegiatan bersama, binggung rasanya mengapa kami tergabung terus dalam melakukan sesuatu tak heran Dony pun berkata

“Kami anak kembar!” kepada setiap orang yang bertanya-tanya. Waktu demi waktu telah berlalu suka duka telah dirasakan bersama.

Namun suatu ketika, Aku dihadapi dengan persoalan yang cukup berat,     Paman tiba-tiba menelepon ku, dengan sura yang terbata-bata ia berkata

“Be…n   ne..ne..nek  m..u   di si..si..ni  se..se..dang  se…ka…rrrr…at”. Mendengar itu aku pun langsung panik, lalu memberitahukan kabar itu kepada keluargaku dirumah, setelah itu dengan menggunakan pakaian seadanya kami pun langsung pergi ke rumah Nenek didesa.

Sesampainya di sana, Nenek tampak tak berdaya, dengan tangkap kamipun langsung membawa nenek ke rumah sakit terdekat, berbagai upaya telah dilakukan namun apalah daya sekarang Nenek telah tiada. Mendengar itu haru dan tangis pun terpecahkan di kala waktu itu membayangkan paras wajah Nenek dan tutur kata nya yang santun, sekarang tinggal kenangan, terlebih semendanya Nenek pernah bercerita tentang asal usul ku, aku ternyata hanyalah cucu angkatnya, dan orangtua ku mereka juga adalah orangtua angkatku. Mendengar itu aku terkejut dan hampir tak percaya, namun sejenak aku merenunginya. timbullah di benak ku “oh… ternyata aku anak angkat, lantas wajahku tidak mirip dengan kedua orangtua ku. Namun aku harus bersyukur karena merekalah aku dapat seperti ini, karena bagaimanapun aku harus mampu menerima keadaan, mereka tetaplah orangtua ku ”.

Setelah kejadian itu Beny mulai aktif lagi bersekolah terlebih mengingat orangtua angkatnya telah merawat. Namun seminggu berlalu Beny sekarang dihadapkan pada pilihan yang berat baginya, Kembali berkerja jadi petani didesa ataukah membiarkan orangtua hidup melarat disana. Tetapi tidak ada pilihan yang lain “ Aku harus berbakti pada orangtua dan membantu mereka” sahutku didalam hati.

“Ke mana, ya, Beny, Mamy?  lama tidak muncul biasanya ia tidak pernah absen selalu datang” Tanya Dony.

“Mungkin sakit!” sahut ibu.

“ih, iya siapa tahu, ya, Mom? Kalau begitu nanti sore aku ingin menengoknya!” katanya bersemangat.

Sudah beberapa kali pintu rumah Beny diketuk Dony, tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian Dony menayakan ketetangga sebelah rumah Beny, ia mendapat keterangan bahwa Beny sudah dua minggu ikut orangtua nya pulang kedesa, menurut kabar bapak nya di-PHK dari perkerjaan nya, terpaksa Beny tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi. “Oh kasihan, Ben” ucapnya dalam hati, namun tiba-tiba keesokan harinya Beny bersekolah, Dony tidak berani berkata apapun tentang keluarga Beny, kembali kami melanjutkan kegiatan bersama, dan berbincang bersama. Namun hari ini Dony terlihat berbeda dengan hari-hari biasanya, nampak dari paras wajah Dony.

“Ada apa, Don? Kamu seperti tampak lesu, tidak seperti biasanya kalau pulang sekolah selalu tegar dan ceria” tegurku.

“Aku, Ben” memangnya kenapa dengan kamu sakit ya?” Dony menggeleng.

“Lantas” aku penasaran ingin tah.

“Aku adalah anak angkat, Ben. Mereka (orangtuanya) ternyata bukan orang tua asli ku, aku bukan anak kandung mereka, Ben!” sahut Dony, pertanda tidak dapat menerima ke adaan.

Aku melihat wajah Dony tampak tertegun seperti kurang percaya dengan perkataannya.

“Uss…. Hati-hati kalau ngomong, mereka tetap orangtua mu, Don!” Sahut ku lalu apa rencana kamu?” tanyaku balik.

“Aku harap kamu bisa membantu aku!” balas Dony.

“Maksudmu?”.

“Saya ingin dipertemukan dengan orangtua asli saya!” Dony, memohon dengan agak mendesak.

Mendengar itu akupun harus segera bertindak pikirku.

“Baiklah kalau begitu, tapi aku harus mencari alamat rumahnya terlebih dahulu!” kata ku.

Dua hari kemudian Beny berhasil menemukan rumah yang cocok untuk Dony merenungi kesalahannya, sebuah rumah kecil tempat aku dirawat dahulu, di Panti Asuhan Kasih Bunda diwilayah Ja’ar , namun lokasi pantinya masih jauh kedalam.

Kedatangan kami disambut baik oleh beberapa orang disana, awalnya Dony terlihat ceria namun tiba-tiba saat melihat plang rumah yang bertuliskan Panti Asuhan, Dony berubah pandangan. “Apa… apaan ini Ben!”.

“Selamat datang dirumah ku!” sahutku.

“Apa” Dony terkejut mendengar kata-kata itu.

“Ayo, masuklah dahulu, nanti akan aku jelaskan!”.

Setelah berbincang-bincang cukup lama, Beny menjelaskan tujuan kedatangan mereka kepada Dony.

“Begini, Don, kedatangan kita kemari, ingin mengajak kamu berbagi kasih bersama anak-anak di Panti ini. gimana Don, apa kamu mau?” Tanya ku tegas.

“Ya..” sahut Dony singkat.

Waktu itu aku mengajak semua anak Panti ikut Ibadah bersama, aku sesekali bercerita tentang kehidupan anak panti yang tidak terurus lagi, baik dari pemerintah maupun daerah, di Kabupaten ini. juga aku bercerita bagaimana awal anak-anak di Panti itu di telantarkan orangtua mereka, mereka masih kecil sama sekali tidak memiliki keluarga, ditelantarkan karena lumpuh, cacat, jelek dan lain sebagainya, sesekali aku menceritakan tentang Asal usul kehidupanku, yang merupakan salah seorang anak Panti itu sendiri yang sekarang sudah diangkat menjadi salah seorang anak dari keluarga baik yang sederhana. Sesekali Dony memandangku dan meneteskan air matanya.

“Inilah hidup, kita harus bersyukur karena kita masih memiliki keluarga yang hendak menerima kita, lihat anak-anak Panti ini tidak memiliki Keluarga sama sekali, namun mereka tetap tegar menjalani kehidupan” Sahutku kepada Dony.

Tiba-tiba Dony melontarkan kata-kata Terima Kasih kepada ku, kemudian Dony bangkit berdiri dari tempat duduk lalu mendekat dan memeluk ku, tampak mata Dony berkaca-kaca karena merasa bahagia. Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali, ternyata mereka adalah sahabat yang sejati, saling menguatkan, yang tak terpisahkan.

Kini, Beny berkerja di Panti Asuhan, guna merawat dan mengurus anak-anak Panti, sementara orangtuanya tetap didesa, sedangkan Dony sesekali sering berkunjung ke Panti untuk melepas rasa rindu terhadap anak-anak Panti.

Anak Panti

Karya : BRI YUDISTIRA

3 Tanggapan

  1. cerita yang menarik …🙂 … sebuah cerpenkah? atau pengalaman pribadi?
    btw dapat dijadikan contoh tentang kehidupan ini …
    nice …😛

  2. nice post
    “Sebuah Replika kehidupan” yang mejadikan kita Mengingat akan kehidupan disekeliling kita!
    Terus berkarya!

  3. Ini Merupakan Sebuah Cerpen, yang mana terinspirasi saat saya dan rekan-rekan Pemuda dan Remaja sedang mengadakan Kunjungan Rohani ke PANTI ASUHAN, untuk berbagi kasih. dari sanalah muncul Ide buat Cerpen ini.
    trims, telah berkunjung. jangan Jera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kategori

  • BARNNER

  • %d blogger menyukai ini: