Artikel

Hidup, Bagai dirus air yang Selalu mengalir.

08-05-1995, lahirlah seorang anak dari suami isteri ADRIATO BANTLEY dan YULIA KUNCA, anak laki-laki yang imut dan lucu itu lah yang terbukti pada waktu itu.

Waktu demi waktu telah berlalu, seiring itu Pertumbuhan dan perkembangan ku berkembang sangat pesat, tubuh ku besar dan tubuhku sangat berat, kala waktu itu aku berumur 3 th.

Seiring tahun telah berganti, begitu pula dengan aku, sekarang umurku 6 th, di umurku yang sekarang ini aku di masukan ke TK Santo Yosep, oleh orang tua ku.

Di sana aku mendapat pengalaman baru, mendapat teman, sahabat dan guru yang baik kepada ku, diantaranya temanku Dea Kayama Putri dia adalah seperti kakak ku sendiri sperti saudara kembar ku, karena apa? Karena kami selalu bermain bersama dan dijemput serta diantar oleh satu orang saja. ha….. ha…. aku ingat dengan teman yang selalu membuntuti ku sperti anak ayam yang mengikuti pantat induknya, yang nama namanya tentunya dirahasiakan. nah itulah teman-teman ku.

Senang rasanya, Merayakan Ul-tah teman bersama-sama di Aula TK, makan sama-sama setiap hari sabtu hingga bermain bersama-sama, itulah masa kecilku dulu, bahagia rasanya.

Namun waktu terus akan tetap berlalu, demikianlah pertumbuhan ku, sekarang aku masuk SD Janah Harapan, di sinilah awal muncul keahlianku, belajar bersama teman ku di SD sungguh menyenangkan dari kelas 1-6 selalu mendapat peringkat kelas, Nah disini awal Keremajaan kami muncul, pada waktu kelas 6 SD, segala perkelahian mulut itu ada saja tiap hari, tak heran suasana tegang dan haru itu selalu menerpa.

Lama rasanya telah berlalu, akhirnya sekarang saya ternyata telah lulus SD, kemudian saya melanjutkan sekolah saya ke SMPN 1 Dusun Tengah.

NAH Disinilah awal Karirku, awal kedatangan ku adalah untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan ini, waktu itu aku masuk di kelas VIIc biasa, awalnya banyak orang yang mengatakan kenapa aku kalah dengan teman SD ku yg masuk di kelas unggulan, ah…… aku tidak terpengaruh dengan apa yang di bicarakan org itu, tetapi aku tetap bersyukur karena aku bisa masuk di SMP ini, terbukti di semester pertama aku mendapat peringkat 1 umum, sedangkan di semester kedua aku mendapat peringkat ke3 umum, nah itu adalah bukti bahwa aku mampu untuk itu.

Sekarang aku kelas VIIIa, wah…. Bangga rasanya masuk di kelas ini, disinilah aku mulai menonjolkan talentaku, belajar aktif, belajar PD, terbukti aku selalu mendapatkan juara di lomba-lomba setiap class meeting. Aku merasa senang yang sangat pada waktu itu.

NAMUN, di balik kesenangan ku, aku merasakan kesedihan yang sangat, setelah aku masuk SMP, aku telah mendapat sesuatu yang tidak baik, separuh dari penghuni SMP ini, mencap ku sebagai orang yang tak memiliki perasaan, MEREKA menghina, mengata-gataiku hal-hal yang tidak baik untuk didengar, namun Tuhan memberikan ku Talenta Khsus yang hanya dimiliki ku. yaitu Kelebihan ku adalah aku diberi kekuatan untuk dapat Sabar dan biasa. Sehingga aku tidak merasa minder dengan apa yang dikata. Aku hanya dapat tersenyum setiap kali dia berkata, karena aku percaya Allah ku, apabila ia menghina aku sama saja ia menghina dirinya sendiri, karena kita serupa dan segambar dengan Allah sama saja dia menghina Allahnya sendiri. Itu yang membuat aku tetap mampu bertahan.

TETAPI, sekarang aku telah kelas IX, disini aku dipilih sebagai ketua kelas, aku sangat berterima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan, namun disini Aku benar-berar merasa Terpukul, awalnya aku mengira teman-teman sudah dapat mengerti akan aku, aku tidak dihormati sebagai pengurus kelas, bukti setiap saat aku menegur tidak ditanggapi, setelah guru datang Ketua kela slah yang menjadi sasaran, betapa sakitnya yang kurasakan, kemudian dikatakan lagi Ketua tidak bisa bertanggung Jawab, tidak adil padahal apa aku berusaha untuk bersikap adil, semuanya itu terletak pada diri kita sendiri untuk bersikap mengerti, ku mohon tolonglah hormati aku, aku tau aku tidak diinginkan disini, aku tau aku tidak memiliki teman yang baik disini, aku patut untuk dihina.

Namun, aku juga memiliki perasaan, jika kau bisa tau Betapa sakit yang kurasakan pada saat mendengar kata ejekan yang keluar dari mulutmu, demikian kata aku tidak menginginkan Mu, ingin sudah rasanya aku menyerah, kalian tidak pernah akan tau karena rasa sedihku ku perlihatkan dengan senyumanku, padahal dibalik senyumku ada penderitaan yang sangat dihatiku.

Aku tahu, aku tak layak disini, tetapi menurut Tuhan ku aku mampu disini jadi aku mohon : “ Aku adalah manusia, aku adalah manusia yang memiliki perasaan, jadi kuharap aku tidak mendengar lagi kata-kata yang membuat hati sakit”, karena aku sama seperti engkau, apabila dihina apa yang kau rasakan? Sakit Bukan.

Kumohon, sadarlah karena kita sama manusia memiliki Kekurangan dan Kelebihan, Mungkin Saya tidak pandai daripada Saudara tetapi Mungkin juga saudara tidak lebih pandai dari saya.

Sekarang, Saya telah Menginjak Bangku Pendidikan SMA saya Sekolah di SMAN 1 Dusun Tengah dan saat ini saya berusaha memulai sesuatu dari Kegagalan yang pernah saya alami. Untuk mencapai cita-cita dan angan-angan saya selama ini. Karna Disini di Sekolah ini waktunya untuk bersungguh-sungguh melakukannya sebab ini akan berpengaruh bagi kita dimasa akan dating.

Sekarang kita telah Dewasa, mengertilah!!!!!
Namun, Kekuatan untuk memahami dan mengerti sesama merupakan bukti Kepedulian terhadap sesame terlebih bagi diri kita sendiri.

============================================================================

Artikel Teman-teman :

 

BINTANG DI BULAN JULI

Penulis : Murraya Putri Palupi

Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas pagi ini. Ku terbangun dari tidur ku yang lelap, aku berdoa, dan segera ku rapikan tempat tidurku. Bergegas aku menuju kamar mandi, karena jam weker ku telah menunjukkan pukul 06.15 WIB, usai mandi lekas ku kenakan pakaian seragamku dan segera berangkat, karena ayahku telah menungguku dan siap mengantarkanku kesekolah. “Juli…. Ini bekalnya ketinggalan!” seru ibu ku sambil berjalan menuju kearahku. “Terimakasih bu, Juli berangkat sekolah dulu”. Jawab ku.

Semilir angin yang segar mengantarkanku tiba disekolah. Aku adalah seorang siswa kelas VII SMP 01 Pagi. Namaku Bening Centaury Juli, dan biasa di panggil Juli. Ayahku sengaja memberikan nama itu karena aku lahir tepat di bulan Juli dan pada saat bintang bersinar terang. Nama tersebut memiliki arti yang luar biasa  bagi kedua orangtuaku, yaitu Bening artinya bening, bersih dan tak kotor, Centaury artinya Bintang dan Juli karena aku lahir di bulan Juli.

Aktivitas di sekolah pun usai. Aku pulang dan bergegas untuk mengganti pakaian seragamku. Lalu aku duduk di meja makan. Ternyata ibu telah menyiapkan makan siang untukku, yaitu tanak patin. Makanan tersebut adalah makanan favoritku, karena rasanya enak dan daging ikan patinnya banyak.

Usai makan siang, aku duduk diruang keluarga untuk menonton televisi sambil belajar. Sering kali ibu mengingatkan aku belajar. Aku harus lebih giat belajar daripada anak – anak lain seusiaku, karena aku tidak seperti anak – anak lain pada umumnya. Aku menderita sindrom Cerebral Palsy. Yaitu mengalami keterlambatan dalam proses perkembangan saraf – saraf ku. Begitu yang dokter katakan pada kedua orangtuaku.

Aku sadar, aku bukanlah anak normal seperti anak – anak seusiaku. Perkembangan ku sangat lambat, saraf tangan dan kaki ku tidak bekerja dengan baik, konsentrasiku pada apa yang ku kerjakan pun sangat kurang, bahkan bicara ku pun belum jelas. Entahlah apa yang terjadi ketika aku masih dikandungan ibu ku dulu sehingga keadaan ku seperti ini. Banyak orang yang memandang aku sebelah mata, mengejekku, bahkan menertawakanku. Walaupun begitu aku tetap bersyukur, meskipun aku banyak memiliki kekurangan, keluargaku tidak pernah mengucilkanku. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku perempuan dan adikku pun perempuan. Sering orang menjuluki kami Tiga Dara.

Kakakku sekarang duduk di bangku kuliah. Ia jarang dapat menemaniku bermain, karena ia sangat sibuk dengan kuliahnya dan kegiatan lainnya. Walaupun begitu, tapi aku tahu dan aku merasakan bahwa ia sangat sayang padaku. Pernah suatu hari, teman – teman kakakku mengunjungi rumah kami menjenguk kakakku yang sedang sakit. Ku intip dan ku dengar salah satu temannya bertanya dengan nada suara yang heran “ Yang duduk di depan tv itu adikmu ya, Ra.?” Lalu kakakku Dira menjawab “ Iya, dia adikku. Adikku yang pertama”. “Mengapa keadaan fisiknya seperti itu”? kembali teman kakakku bertanya. Ku Lihat kakakku tersenyum kecil dan menjawab “Ya, begitulah dia. Fisiknya boleh kurang, tetapi hatinya tidak. Kalian lihat tulisan itu?” kakakku menunjuk sebuah kertas kecil  yang tertempel di dinding kamarnya, di kertas tersebut terdapat sebuah gambar hati berukuran kecil diatasnya ada tulisan “Aku Sayang Kakak, Cepat Sembuh ya…”. “ Kalian mungkin tak percaya, kalau adikku yang memiliki kekurangan seperti itu dapat memiliki pemikiran yang luar biasa untuk menyemangati aku”. Ucap kakakku. Teman kakakku pun terdiam. Aku terharu pada saat itu, aku tidak menyangka kalau kakakku membanggakan aku di depan teman – temannya dan tak sedikit pun rasa malu memiliki adik seperti ku.

Aku biasa menghabiskan waktu bermain ku dengan adik ku, Adel. Adik ku siswa kelas 2 SD. Dia lah yang setiap harinya bercanda dengan ku, mengajakku tertawa untuk sejenak melupakan  keletihanku dan perasaan tak enak di hatiku.

Minggu, 1 Juli 2010. Hari ini adalah ulang tahunku, dan usia genap menjadi 13 tahun. Rasa damai dan ketenangan begitu ku rasakan. Tak ada pesta meriah di rumah. Pagi ini kami sekeluarga pergi kegereja. Setelah pulang dari gereja, ibu telah menyiapkan nasi tumpeng untuk kami, syukuran untuk hari ulang tahun ku. Kami berdoa bersama.

Siang harinya, aku dan Adel bermain dengan kelinci peliharaan kami, Moni. Tiba – tiba Moni berlari keluar dari pagar rumah kami dan berhenti di samping tumpukan sampah di seberang jalan. Aku berusaha mengejar Moni. “Kak….,jangan di kejar! Biar aku saja yang mengambilnya”. Teriak Adel. Tapi aku mengabaikan teriakkan itu, dan seketika aku merasakan tubuh ku tergeletak di jalan tak berdaya penuh dengan darah. Ternyata sebuah sepeda motor telah menabrak ku. Tak ku rasakan apa yang terjadi kemudian.

Aku heran, mengapa aku mengenakan gaun putih yang sangat indah, gaun yang sebelumnya pernah ku lihat terpajang di sebuah toko baju di samping gereja dan yang ku inginkan. Dari kejauhan ku dengar suara ibu sayup memanggil ku.. “Juli…. Kamu di mana nak…?” ku cari sumber suara tersebut dan semakin lama, semakin dekat. “Ibuuu…..!” teriak ku. Seketika itu juga aku terjaga dari mimpiku, aku berada di sebuah ruangan yang sangat bersih dan sangat asing bagiku. “Apakah aku sudah berada surga…?” tanya ku dalam hati. Ku perhatikan seluruh isi ruang tersebut, ku dapati ayahku tertidur di sebuah sofa. Ia terbangun dan mengatakan kepada ku bahwa aku sedang berada di rumah sakit. Aku lega, ternyata aku masih diberi nafas hidup dan umur yang panjang di hari ulang tahunku ini oleh Tuhan. Ku lihat wajah ayah begitu lelah, aku menyarankan ayah untuk beristirahat. Ayah setuju dengan saran ku asal dengan syarat aku juga harus beristirahat. Aku menyetujuinya. Dan hari ini di tutup dengan senyum kecil ayah dan sambil berbisik ayah berkata “Selamat Ulang Tahun nak, Tuhan memberkati”.

Keesokan harinya, sebelum ayah dan ibu berangkat kerja, mereka menjengukku, menyuapiku makan bubur kakulih, dan berdoa untuk ku agar aku lekas sembuh. Tak lama, tinggallah aku sendiri di ruang yang sepi ini. Aku merenung, aku mulai menyadari bahwa aku adalah anak yang paling beruntung, walaupun Tuhan memberikan aku banyak kekurangan, tapi aku tak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian. Ayah dan ibu ku sangat sayang pada ku, tak pernah sekalipun ku dengar mereka putus asa dan mengeluh dengan keterbatasan yang ku miliki. Aku kagum pada mereka. Ayahku adalah orang yang paling dekat dengan diriku. Ayah telah melakukan berbagai cara untuk membantuku keluar dari keterbatasanku. Mulai dari cara tradisional seperti obat – obatan herbal, sampai cara medis dengan berbagai terapi yang ku jalani. Hasilnya memang belum maksimal, tapi ayahku tidak berhenti begitu saja. Ayah pernah menyekolahkan aku ke sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) dan memasukkan aku ke sebuah asrama khusus tempat anak – anak seperti ku. Seringkali aku menangis ketika ayah dan ibu menjengukku, aku tak ingin berpisah dengan mereka. 2 bulan kemudian tiba – tiba ayahku menjemputku pulang dan keluar dari asrama sekolah tersebut. Mungkin ayah tak tega meninggalkan aku sendiri disana. Saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat ayah meneteskan airmatanya ketika memelukku. Dan hari itu juga terjadi tepat di hari ulang tahunku 3 tahun lalu. Aku kagum pada sosok ayahku yang sabar dan tak kenal lelah mengajari ku banyak hal. Ia gigih untuk membantu ku agar aku menjadi bisa dan memiliki kemampuan yang sama dengan anak yang seusia dengan ku. Terkadang pagi – pagi ayah membangunkanku dan mengajakku berolahraga untuk melatih saraf ku. Sore harinya ayah mengajariku menulis dan membaca, hingga sekarang hal tersebut pun masih ia lakukan untuk sedikit membantuku mengerjakan tugas sekolahku.

Ibu pun sangat ku kagumi. Ibu pandai memasak, semua masakan ibu adalah makanan favoritku. Aku sangat suka bubur kakicak dan bubur kakulih buatan ibu. Jika aku sedang sakit ataupun jika musim libur sekolah, ibu pasti membuat bubur itu untuk camilan kami agar kami tidak jajan sembarangan.

“ Kakak…..” ku dengar suara si kecil Adel memanggilku. Aku tersadar dari lamunan dan renunganku. Dia muncul di depan pintu bersama dengan kakakku Dira. Aku senang mereka datang, karena ada yang menemaniku dan menghiburku.

Aku memang belum pandai menulis dan membaca, tapi berkat bantuan orang tuaku, kakak dan adikku, kini sedikit demi sedikit mulai bisa menulis dan membaca serta melakukan berbagai aktivitas lain sendiri tanpa harus selalu di bantu. “ Kak, kakak baru pulang kuliah kan?” tanya ku pada kak Dira. “Ya, kenapa Li?” jawab kakakku.

“Aku boleh minta kertas kakak selembar saja?”

“Boleh, tapi buat apa Li.?”tanya kakakku bingung sambil menyodorkan selembar kertas dan pUlpen untukku. “Ada dech” jawab ku. Perlahan aku mulai menulis kata – kata sederhana. Kata – kata sederhana yang sering di katakan oleh ayah, ibu, kakak, serta adik untukku.

Juli harus berusaha lebih sering berdoa kepada Tuhan

Juli harus berusaha meraih kebahagiaan Juli dengan sekuat tenaga

Juli harus berusaha menikmati hidup Juli sebaik mungkin

Juli harus berusaha menghargai semua yang sudah Tuhan beri untuk Juli

Juli harus berusaha untuk tidak terlalu sedih ketika orang lain mengejek Juli

Juli harus berusaha untuk selalu tersenyum dan baik kepada semua orang

Juli harus berusaha belajar untuk selalu sabar menghadapi setiap masalah

Juli harus berusaha menjadi bintang yang terang

Juli harus berusaha menjadi orang yang sukses di masa depan.

Usai menulis, aku meminta kakak ku untuk menempelkan kertas itu di kamarku jika ia pulang nanti. Kata – kata itu sebagai pemotivasiku untuk membangkitkanku dari keterpurukan ku saat orang – orang memandang sebelah mata diriku dan saat aku merasa putus asa. Kakakku terharu saat ia membaca isi kertas tersebut, ia dan Adel memelukku erat. Kakak berbisik “Bening Centaury Juli, hatimu bening dan kamu pasti akan menjadi bintang dalam mengalahkan keterbatasanmu. Jangan menyerah sayang!”

-Selesai-

 

==========================================================================

 

CINTA Yang DATANG dan PERGI

Karya : Lesa Mara Pepe

Ditaman itu semua orang terlihat begitu bahagia, itu terpancar dari wajah mereka yang berseri-seri, melihat orang lain yang tersenyum bahagia, malah membuat hati Nizha semakin sedih dan terluka, bagaimana tidak sedih dan terluka, karena saat ini ia mengalami despresi dan sakit hati yang mendalam, karena ia ditinggalkan oleh kekasihnya yang tercinta untuk selamanya dan tak mungkin bisa kembali lagi.

Nizha duduk melamun dibangku taman itu, melamunkan masa-masa indah ia bersama kekasihnya, ketika ia mengingat masa-masa indah itu, ia kembali terisak, air mata kembali berlinang dari kedua kelopak matanya yang indah. Ia berpikir mungkinkah ia akan menemukan sosok orang yang sama lagi seperti kekasihnya.

“Arman, kekasihku yang sangat kucintai.Oh..Tuhan mengapa Kau mengambilnya dengan begitu cepat ”, pekik Nizha dengan suara yang sangat keras. Membuat perhatian semua orang yang ada ditaman tertuju kepadanya, orang-orang itu hanya heran dan bingung saja melihat tingkah Nizha, namun ia tidak peduli terhadap orang-orang itu, ia semakin terisak.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mendekatinya dan berkata “ Nona, berhentilah menangis! ”, Nizha mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki yang begitu sangat tampan dan berwajah bule. “ Kamu siapa? “ sambil tetap terisak Nizha bertanya kepada laki-laki itu. “ Aku hanyalah orang yang tak sengaja lewat sini dan aku merasa iba melihatmu menangis, mengapa kamu menangis? “

“ Aku merasa hidup ini sudah tak berarti lagi, mengapa orang yang kusayangi dan yang kucintai begitu cepatnya meninggalkanku.” Tanpa sadar akan siapa laki-laki itu, Nizha spontan saja bercerita tentang kesedihannya. “ Nona, menurutku sebaiknya kamu berhentilah menangis, tiada gunanya kamu terlalu lama bersedih, seperti inilah adanya kehidupan didunia ini, ada kala suka ada pula kala duka, semuanya harus kita jalani dengan senang hati, hidup itu adalah sebuah perjuangan, maaf jika aku terlalu banyak bicara, aku hanya ingin kamu berhenti menangis.”

“ Tidak apa-apa, aku senang ada orang yang peduli tergadapku, terimakasih banyak atas perhatianmu, aku merasa cukup terhibur “. jawab Nizha dengan nada suara yang pelan “. Iya Nona, aku juga senang sekali jika sekarang kamu sudah tak merasa sedih lagi. Oh… ya ini kartu namaku, jika kamu ingin menghubungiku, hubungi saja, sampai jumpa.” Laki-laki itu langsung beranjak pergi dari tempat itu dan meninggalkan Nizha. Nizha hanya termangu saja menatap kepergian laki-laki itu, dikartu nama itu tertera nama Robert Steeven. “ Nama yang bagus”, gumam Nizha dalam hatinya.

Nizha pulang kerumahnya yang berada tepat ditengah kota Mertopolitan Ampah. Sesampainya dirumah, Nizha langsung saja membongkar isi tasnya dan mengambil kartu nama laki-laki yang ia temui ditaman tadi siang. Ia langsung saja menhubungi no HP laki-laki itu.

“ Hallo, ini siapa? “ Jawab laki-laki itu. “ Maaf apa benar ini nomor HP Robert Steeven? ” kata Nizha. “ Iya, benar dengan siapa ini? “ jawab Robert. “ Aku adalah perempuan yang kamu temui ditaman tadi sore, nama saya adalah Nizha ”. “ Oh..Iya bagaimana kabarmu saat ini? ”, “ Kabarku sekarang cukup baik, berkat perkataanmu itu, akhirnya aku bisa mengerti arti hidup ini,terimakasih banyak “ . “ Iya sama-sama aku juga merasa sangat senang sekali, karena kamu sekarang sudah bisa bangkit dari kesedihanmu ! “ percakapan mereka terus berlanjut.

Pagi hari yang cerah secerah hati Nizha, Ya…saat ini hati Nizha sedang berbunga-bunga menanti kedatangan Robert, laki-laki yang tidak sengaja bertemu dengannya ditaman beberapa hari yang lalu, pertemuan yang tidak disengaja itu sepertinya akan membuka lembaran kehidupan yang baru bagi Nizha.

“ Aku senang sekali sebentar lagi Robert akan datang berkunjung kerumahku, aku sangat bahagia.”  Nizha berbicara sendiri menghadap bayangan dirinya didepan cermin, sambil memperhatikan penampilannya didepan cermin. “ Sempurna, aku memeng harus tampil cantik didepannya nanti ”, gumam Nizha dalam hatinya.

Ting…tong…Bel rumah Nizha berbunyi, sepertinya Robert sudah sampai rumahnya. “ Bi Inah, tolong bukakan pintunya! “ teriak Nizha dari dalam kamarnya ” . “ Baik non “, jawab Bi Inah. Bi Inah membukakan pintu rumah, “ Siapakah gerangan laki-laki yang tampan dan mempesona ini, apa lagi mukanya, muka orang Bule ”,  gumam Bi Inah dalam hatinya. Bi Inah sangat terpesona sekali dengan sosok Robert. “ Ehm..!!! “ kata Robert kepada Bi Inah, membuat Bi Inah kaget dan sadar dari lamunannya. “ Ah maaf tuan, silahkan masuk! “ kata Bi Inah, Robert menurut dan nasuk kedalam rumah, “ silahkan duduk tuan “. Bi Inah mempersilahkan Robert duduk. Beberapa saat kemudian Nizha keluar dari kamarnya menuju ruang tamu, spontan saja Robert berdiri kembali setelah ia melihat kedatangan Nizha

“ Selamat pagi nona cantik “, kata Robert sambil memberikan setangkai bunga mawar yang indah untuk Nizha. “ Terimakasih banyak, bunga yang sangat cantik, aku menyukainya, ah…ya silahkan duduk “. Kata Nizha sambil mempersilahkan Roberth duduk kembali. “ Bi Inah, tolong buatkan minuman! “ kata Nizha kepada Bi Inah. “ Baik non “, jawab Bi Inah. Mereka terus mengobrol, sampai tibanya waktu Robert harus segera pergi, karena ada pekerjaan kantor yang harus ia kerjakan. Setelah pulang, Nizha terus saja melamun dan tersenyum sambil membayangkan bayangan sosok Robert.

“ Cieh…Si enon ini pasti sedang jatuh cinta, iya kan non? “ kata Bi Inah sambil sedikit menggoda Nizha. “ Bibi ini bisa aja, tapi emang bener kok yang dikatakan Bibi itu, ngga bisa dibohongin aku emang menyukainya Bi. “ Iya dong Bibi tahu, Bibi kan pernah muda,he..he..” ( Bibi tertawa kecil ), “  Jadi menurut bibi, apa dia laki-laki yang pantas, baik, dan cocok untukku? “. “ Menurut Bibi sepertinya dia memeng laki-laki yang baik dan pantas untuk nona, bibi aja waktu pertama kali melihatnya merasa sangat kagum dan terpesona, dia memang laki-laki yang sangat tampan, cobalah nona mengenalnya lebih jauh lagi, Bibi senang karena ada laki-laki itu Nona kembali ceria lagi “. “ Baiklah Bi, aku akan coba mengenalnya lebih jauh lagi “. “ Gitu dong Non! “, obrolan Nizha dan Bi Inah terus berlanjut, mereka suda seperti keluarga sendiri, Bi Inah seperti Ibu bagi Nizha dan Nizha seperti anak bagi Bi Inah, karena dikota Ampah ini Nizha tidak punya sanak keluarga, Nizha hanya tinggal sendirian bersama Bi Inah dirumahnya yang sangat mewah dan besar itu, ayah dan ibunya tinggal diluar Negri.

Pertemuan Nizha dan Robert itu terus berlanjut sampai akhirnya mereka menjalin sebuah hubungan cinta. Hubungan cinta mereka sangatlah harmonis dan bahagia, hingga sampailah tibanya mereka menuju bangku pelaminan dalam sebuah ikatan perkawinan.

“ Sayang, bagaimana menurutmu, tanggal berapakah yang tepat kita melaksanakan upacara perkawinan kita, setelah itu barulah kita memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua, sanak keluarga, dan teman-teman kita? “ kata Roberth kepada Nizha yang kini telah menjadi sepasang kekasih. “ Sayang, kalau menurutku bagaimana kalau pernikahan kita, kita laksanakan pada tanggal 10 oktober 2010 ini? “ jawab Nizha. “ Perfect, itu tanggal pernikahan yang sangat sempurna, idemu sangat bagus sayang “. “ Iya sayang, sekarang tinggal kita susun saja rencana pernikahan kita “. Sepasang kekasih itu terus membicarakan dan membahas masalah acara perkawinan yang akan mereka langsungkan.

Tiga hari lagi acara pernikahan itu akan dilangsungkan, orang tua, sanak keluarga, dan teman-teman telah diberitahu dan diundang untuk menghadiri acara perkawinan itu. Hari bahagia yang hampir tiba itu, berubah menjadi suasana duka. Mobil yang dikendarai Robert jatuh terpelosok kejurang, karena ia bertabrakkan dengan sopir truk yang sedang mabuk, Robert sempat dilarikan kerumah sakit, namun nyawanya tak tertolong lagi.

Mobil yang dikendarai Nizha melaju melesat cepat menuju rumah sakit, dalam hati ia terus berharap dan berdoa semoga saja kekasihnya tersebut dalam keadaan baik-baik saja. Sepanjang jalan ia terus gelisah memikirkan kekasihnya, air mata tak bisa dibendung lagi, wajahnya yang cantik basah oleh air matanya. Sesampainya dirumah sakit, ia cepat-cepat berlari menuju ruangan dimana kekasihnya terbaring. Ketika ia memasuki ruangan dimana kekasihnya terbaring, ia melihat disitu telah ada orang tua, saudara, bahkan teman dari kekasihnya, terlihat mereka semua sangat sedih dan menangis.

“ Apa yang terjadi? “ tanya Nizha kepada mereka. “ Nak, Robert telah tiada “, jawab ibu Robert sambil terisak, air mata terus berlinang dari kedua matanya. “ Tidak, tidak mungkin, Robert sayangku kamu masih hidupkan, kamu tidak akan meninggalkanku, bangunlah, buka matamu sayang! “ Nizha berbicara menghadap jenazah kekasihnya, ia tidak percaya bahwa kekasihnya telah meninggal, “ Jawab aku sayang! “, pekik Nizha sambil menangis terisak-isak, sampai ia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.

“ Keesokan harinya jenazah Rober akan disemayamkan, kesedihan yang mendalam telah dialami Nizha untuk yang kedua kalinya, seluruh dunia begitu gelap dimatanya, ia bahkan merasa tak mampu untuk bangkit lagi dari kesedihan ini. Ketika jenazah Robert sudah dimasukkan kedalam liang lahat, Nizha kembali jatuh pingsan lagi, ia benar-benar tak mampu menerima kenyataan yang begitu pahit ini. Nizha merasa terbang kealam lain. “ Sayangku, ingatlah kataku, kamu harus kuat menghadapi pahitnya kehidupan ini, suka dan duka harus mampu kamu lewati, tetaplah tegar dalam menjalani kehidupan ini. “ Nizha bermimpi Robert kekasihnya sedang berbicara kepadanya. “ Selamat tinggal sayangku, tetaplah tegar, jadilah wanita yang kuat. “

“ Tidak, sayang tunggu aku, jangan tinggalkan aku. “ pekik Nizha, seketika ia langsung sadar dari mimpinya, ia kembali menangis dan terisak. Ia merenungkan semua kata-kata kekasihnya itu, dengan kata-kata itu, ia menyadari bahwa Robert kekasihnya menginginkan ia tetap tegar dan kuat.

“ Nak, ayo mari kita pulang. “ kata Ibu Robert kepada Nizha. Nizha mengangguk menurut untuk pulang. Semua kejadian ini telah mengajarkan Nizha banyak hal, ia telah menjadi wanita yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan ini. Angin terus berhembus, siang pun berganti malam, kehidupan ini pun terus berlanjut.

S E L E S A I

=========================================================================

Renungan Malam

ENAM KALI AKU MENANGISI ADIKKU

Aku lahir di pegunungan yang sangat terpencil. Untuk memenuhi kebutuhan kami, setiap hari dengan berpeluh orang tuaku membajak lahan kami yang tandus. Dan, aku mempunyai seorang adik laki-laki yang usianya tiga tahun lebih muda daripada aku. Suatu saat, karena tertarik untuk membeli sebuah sapu yang tenar dipakai anak-anak didesaku. Aku mencuri uang lima puluh sen dari laci ayahku. Ayahku segera menyadari kehilangan uang tersebut. Ayah memerintahkan aku dan adikku untuk berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. “siapa yang mencuri uang itu?” ayah bertanya dengan marah. Aku terdiam, terlalu takut untuk bicara. Ayah semakin marah ketika tidak ada yang mengaku, dan ia berkata, “baik kalian berdua akan aku hajar!” ayah mengangkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba adikku mencekram tangannya!” tongkat panjang itu segera bertubi-tubi menghantam punggung adikku. Ayah begitu marah, sehingga ia rupa diri dan terus menerus memukul adikku sampai beliau kehabisan nafas. Sesudah itu, ayah duduk diatas ranjang memarahi adikku, “kamu sudah belajar mencuri sekarang, hal yang memalukan seperti apa lagi yang akan kamu lakukan dimasa yang akan datang?”…….. kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu.

Malam itu ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikan air mata setetes pun. Pada tengah malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung raung. Adikku menutup mulut ku dengan tangan kecilnya dan berkata,”Kak jangan menangis lagi sekarang. Semuanya telah terjadi”.

Aku masih membenci diriku, karena tidak memiliki keberanian untuk mengakui perbuatanku. Bertahun tahun telah lewat, tetapi kejadian tersebut seakan baru terjadi kemarin, aku tidak pernah lupa wajah adikku saat melindungiku. Ketika itu aku berusia 11 tahun dan adikku 8 tahun. Setelah adikku lulus SMP, ia akan melanjutkan kesebuah SMA diKabupaten.

Pada saat yang bersamaan, aku diterima untuk masuk kesebuah Universitas Provinsi. Malam itu ayahku berjongkok dihalaman, mengisap rokok tembakaunya, terus-menerus sampai menghabiskan berbungkus rokoknya. Aku mendengarnya menggerutu, “Kedua anak kita memberikan hasil yang sangat baik…. hasil yang sangat baik. “Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas.”Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus? Saat itu juga adikku berjalan keluar dan berkata,”Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku sudah cukup mambaca bayak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul wajah adikku,”Kamu ini, mengapa kamu memiliki jiwa yang begitu lemah? Sekalipun hal tersebut terjadi berarti bahwa aku harus mengemis dijalanan, Aku akan tetap menyekolahkan kalian berdua sampai selesai! Setelah itu ayah mengetuk setiap rumah untuk meminjam uang. Dengan penuh kelembutan aku menjulurkan tanganku kewajah adikku yang membengkak. Aku mencoba menasihatinya,”Seorang anak laki-laki harus melanjutkan sekolahnya. Jika tidak maka ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.  Diluar dugaan keesokan paginya adikku meninggalkan rumah dengan pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah kering. Dia menyelinap kesamping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas diatas bantal.”Kak, masuk ke Universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi kerja dan mencarimu uang.” Aku memegang kertas tersebut dengan bercucuran air mata sampai suaraku hilang. Saat itu adikku berusia 17 tahun sedangkan aku 20 tahun. Dengan uang hasil pinjaman ayah ditambah dengan uang hasil adikku (hasil kerjanya sebagai kuli bangunan diKontruksi)akhirnya, aku melewati tahun ketiga diUniversitas. Pada suatu hari ketika aku sedang belajar dikamar. Teman sekamarku masuk dan memberitahukan,”Ada seorang penduduk desa menunggumu didepan?”. Ketika aku keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku bertanya kepadanya,”Mengapa tidak kamu katakan kepada temanku bahwa kamu adalah adikku?” Dia jawab, tersenyum”Lihatlah penampilanku! Apa yang akan mereka pikirkan jika mereka tau bahwa aku adalah adikmu? Apakah mereka tidak akan menertawakanmu?

Aku merasa sangat terharu dan air mata ku kembali mengalir. Aku membersihkan semua debu yang melekat pada adikku, dengan agak tersendat-sendaat. Aku berkata.”Aku tidak perduli omangan apapun kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu! Sementara aku tidak bisa menahan diri untuk menangis dan aku menangis sambil memeluk adikku. Waktu terus berlalu, adikku telah berusia 20tahun dan aku 23th. Saat aku pertama kali membawa pacarku pertama kali kerumah, kaca jendela yang pecah telah diganti dan rumahku terlihat bersih. Setelah pacarku pulang aku tersenyum gembira kepada ibuku dan berkata,”Bu, Ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita! Ibu tersenyum dan berkata,”Ini karena adikmu pulang lebih awal untuk membersihkan rumah. Tidaklah kamu lihat luka pada tangannya?karena ia memasang kaca baru itu.

Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku. Melihat wajahnya yang kurus, Seratus jarum menusukku. Aku mengoleskan sedikit obat pada lukanya dan membalut lukanya” Apakah masih sakit? Aku bertanya kepadanya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tau ketika aku berkerja di lokasi Kontruksi batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap saat. Hal tersebut bahkan tidak menghentikan berkerja” ditengah kalimatnya itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku. Dan menangis membelakanginya. Tahun terus berlalu dan saat aku menikah adikku berusia 23 tahun. Setelah menikah aku tinggal dikota. Sering sekali aku mengundang keluaurgaku kerumahku untuk datang dan tinggal bersama kami. Tetapi mereka selalu menolak. Mereka mengatakan” Jika meninggalkan desa mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Adikku juga tidak setuju, ia berkata “Kak, jaga saja mertuamu!”.  Aku akan menjaga Ayah dan Ibu disini. Suatu hari adikku terkena sengatan listrik ketika naik tangga memperbaiki kabel listrik. Ia dimasukan kerumah sakit. Aku dan keluarga besar ku pergi menjenguknya. Setelah melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu,”Mengapa kamu menolak tawaranku untuk menjadi seorang manejer di Perusahaan padanganku? Lihatlah dirimu saat ini, mendapat luka begitu serius mengapa kamu tidak mendengarkan kami sebelumnya?”.

Dengan wajah yang serius, ia menjelaskan “Pikirkanlah kakak ipar, ia baru saja menjadi seorang direktur. Dan aku tidak mempunyai pendidikan yang sepadan. Jika aku dijadikan seorang manajer, gosip seperti apa yang akan tersebar? Kembali mataku dipenuhi air mata, lalu keluarlah perkataan dengan terpatah-patah dari mulutku “Tetapi, kamu tidak mendapatkan pendidikan oleh karena aku, Bukan?”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” jawa adikku. Tahun itu ia berusia 26 tahun dan aku 29 tahun. Adikku menikah pada usia 30 tahun dengan seorang gadis desa kami. Pada acara pernikahannya, Pembawa acara berbicara kepadanya,”Siapa yang paling anda hormati dan kasihi? Bukan tanpa berfikir, Ia segera menjawab.”Kakakku”. ia melanjutkan dengan menceritakan suatu kisah yang bahkan aku sudah tidak ingat lagi. “Ketika itu aku masih SD. Sekolah kami berada disekolah yang berbeda. Setiap hari kakakku dan aku  berjalan selama 2 jam untuk pergi kesekolah. Lalu kakak ku memberikan sarung tangannya. Sedangkan ia hanya memakai satu saja. Sampai dirumah, tangannya begitu gemetar karena cuaca sangat dingin sampai-sampai ia tiadak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu aku bersumpah. Selama aku hidup aku akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya. “tepuk tangan yang sangat meriah memenuhi ruangan itu. Bibirku terasa begitu berat dan sulit untuk mengucapkan kata-kata “Dalam hidupku, orang yang kepadanya aku sangat berterimakasih adalah adikku. “Tak tersisa air mataku membasahi pipiku lagi.

 

Ilustrasi ini mengajarkan kepada kita tentang kasih dan pengorbanan antara saudara dan seharusnya terlebih kepada ALLAH sudahkah saudara(i) demikian?

 

By, Bri Yudistira

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kategori

  • BARNNER

  • %d blogger menyukai ini: